Jangan buru-buru menikah


Image result for wedding toon




Belakangan ini, di lingkaran pertemanan saya sedang hangat-hangatnya membicarakan topic tentang pernikahan. Ya walaupun beberapa tahun terakhir topic ini menjadi topic yang kayaknya tidak akan ada habisnya dibicarakan khusunya bagi mereka yang usianya sudah masuk 20-an ke atas. Seakan seluruh sejagat raya semesta alam satu kunci dunia menyuruh cepat cepat untuk cari jodoh dan membuat kita, yang umurnya “terdesak”, umur 20-an keatas, merasa berdosa kalau belum menikah padahal umur sudah cukup alias TUA.


Gak masalah sih sebenenarnya. Jangan buru-buru menjalin hubungan apalagi hubungan pernikahan hanya karena merasa sepi, karena semua hal tetap berjalan meski sudah menikah, termasuk hidup yang kita jalani. Dengan menikah bukan berarti kita akan selalu bahagiakarena sesugughnya dengan menikah bukan berarti kamu tidak akan merasa sepi lagi.


Menikah itu bukan ajang perlombaan, bukan lomba lari. Yang duluan tidak akan mendapat piala. Jangan hanya karena kegalauan melanda dan tekanan dari orang untuk segera menikah menjadikan kamu mengorbankan hidupmu demi orang lain. Karena sesungguhnya hidup yang kita jalani adalah tentang bagaimna kita, bukan tentag apa kata orang lain. Toh kalopun menikah, semua orang hanya akan ikut bahagia dalam waktu sehari saja, selebihnya mereka tidak perlu repot-repot memikirkan kehidupanmu bersama pasanganmu (etapi, ada juga sih orang yang empedunya keras sampe repot repot memikirkan kehidupan orang lain padahal dia bukan siapa siapa, ada, pasti ada. :D). sebaliknya, setelah sehari dan seterusnya yang akan mengarungi rumah tangga kan dirimu.

Akan sangat jauh lebih tidak baik jika pernikahan dilakukan hanya jadi ajang pembuktian semata, dengan tujuan mematahkan cibiran cibiran pedas dari orang-orang yang selalu berkomentar. Emang kadang suka ngeselin orang-orang yang nanya “kapan nikah?” ini, ingin rasanya mulutnya kusumpal pake rendaman cucian anak kos yang sudah satu minggu lupa kalo rendam pakaian.
Akan selalu ada orang baik keluarga atau bukan, yang membandingkan-bandingkan kita dengan anak orang lain, yang kayak :


“tuh si samsuri udah nikah, kamu kapan?” -_____-

“temen-temenmu sudah gendong anak, kamu kapan?”

Yaelah, baby sitter juga tiap hari gendong anak.........orang ??


Tapi ada lagi orang yg lebih ngeselin dari yg bertanya “kapan nikah?”, yaitu orang-orang yg seluruh isi sosmednya semua tentang konten nikah, sekali dua kali gapapa kali yah. Tapi ada temen saya di WA stories sampe saya muted setahun gara-gara hampir tiap hari ngodein MUluuuuuuuuuu kerjaannya. Sampe ada yang bikin saya serasa pusing ketika tiba-tiba dia nge-stories

“ KAPAN HALALIN AQ QAQA ??”

(dalam hati saya “APAANSIH ??? EMANG NGANA NAJIS MUGOLODOH ??”)


Orang yang bertingkah baik didepanmu atau sedang menjalin hubungan bersamamu sekarang tak menjamin ia punya niat untuk menkahimu. sekarang Jangan ngana pikir selang kiri tak berlaku. Karena pada beberapa kasus, ada orang yang sudah menjalin hubungan yang cukup lama, tapi berlabuh dalam pernikahan bersama orang lain. So sad. tapi tidak menjadi masalah karena Menikah tak hanya tentang kita atau dengan siapa kita akan menikah, karena ini adalah sebuah hubungan jangka panjang yang seharusnya berjalan dengan orang yang tepat. Jika mungkin sekarang sudah ada orang yang telah bersedia menyayangi, bukan berarti kita harus percaya sepenuhnya bahwa dia kelak akan jadi suami/istri yang baik. Cobalah untuk memahami dan mengenali dia lebih jauh lagi. Siapa tau ada opsi lain. Eaaaaaa…

Sekali kali, jangan buru buru menikah. Dalam agama saya, seruan menikah itu ditujukan bagi mereka yang sudah mampu. Kurang lebih bunyinya seperti ini :


“barangsiapa memiliki kemampuan (untuk menikah), maka menikahlah. Dan barang siapa yang belum mampu, hendakah ia berpuasa karena puasa itu adalah perisai baginya.
Hadisnya kan bukan berbunyi, “menikahlah kalo ngana so umur doplima”. Kan bukan.


Kata “mampu” disini merujuk pada banyak variable, bisa mampu pada ekonomi, mampu mengendalikan diri, emosi, mampu secara mental. Dan kalo tidak mampu, maka berpuasalah solusinya. Mengerjakan hal-hal penting lainnya.

Karena pada akhirya, menikah adalah tentang kesiapan, bukan menjadi ajang pembebasan. Dan pertanyaan terakhir yang paling penting ketika memutuskan untuk menikah adalah bagaimana kesiapan kita untuk hal ini ? sudah siapkah diri untuk semua konsekuensi dan tantangan yang kelak akan dijalani ?. karena menikah tak berate menyelesaikan semua masalah, justru itu adalah babak untuk masalah-masalah baru yang juga akan mewarnai. Hal itu akan menjadi momen sacral yang akan membuktikan sebuah kesiapan dan kedewasaan diri serta kebijakan bersikap yang akan terasa sangat baik dan indah jika dilakukan dengan senang hati tanpa ada paksaan dan desakan dari pihak manapun.










Wasalam.

Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer