PREFERENSI POLITIK
Sudah 2 hari setelah pesta demokrasi di Indonesia dilaksanakan, saya pikir situasinya akan lebih adem tapi ternyata tidak, ternyata kedua belah pihak masih saling tuding, masih hujat-menghujat. Melihatnya saja saya capek, kok mereka kayak gak ada habis energi ya ??
2 hari menjelang Pilres sebuah film documenter berjudul “SEXY KILLER” rilis ke publik yang memuat tentang industri tambang batubara yang dikuasai sejumlah elit politik di Indnesia. Saya memutuskan untuk tidak menonton film tersebut setidaknya setelah pilpres berakhir dengan tujuan agar tidak mempengaruhi preferensi politik saya saat pilpres. Karena saya tahu film-film yang disutradarai oleh Dandhy Laksono melalui WatchDoc sebelum-sebelumnya cukup mempengaruhi pandangan saya terhadap tokoh-tokoh tertentu. Sebagai sebuah karya yang mengangkat isu lingkungan, pemilhan waktunya menurut saya sangat tepat dan tentunya menarik banyak perhatian banyak orang. Interprestasi orang-orang terhadap film itu juga sangat beragam. Ada yang menganggapnya sebagai ajakan golput, ada yang menjadikan film tersebut sebagai bahan untuk merasa bersyukur, ada yang menganggap bahwa film itu menyudutkan satu pihak karena pihak itu lebih sering disebut ketimbang pihak yang lainnya, yang mana, sebagai sebuah karya, orang bisa dengan bebas meng-interpretasi-kan hal tersebut dan sah-sah saja. Kalo ditanyakan apa interpretasi saya terhadapa film itu sebernarnya bukan tentang ajakan golput, atau serang elit politik terhadap lawannya, Bukan. Film itu menurut saya tentang perilaku manusia yang merusak tempat tinggalnya sendiri. Kita, manusia, adalah satu-satunya spesies di muka bumi yang bisa memusnahkah diri sendiri. Kita bisa mencari hal-hal serupa dengan kata kunci “Deep meaning picture”. Sebuah Ironi.
Terus kalo di tanya pilihan politik saya bagaimana ?. menurut saya dalam politik pilihannya bukan untuk memilih yang terbaik, tapi memilih yang MENDING. saya pribadi, tahun 2014, untuk pertama kalinya dalam hidup saya memutuskan untuk terlibat dalam pesta demokrasi, yang sebelum-sebelumnya saya tidak pernah memilih baik ditingkat kabupaten maupun provinsi. Pada saat itu, saya lebih memilih Prabowo-Hatta hanya karena pasangan itu tidak memiliki intrik ketimbang pasangan Jokowi-Jk, Jokowi pada saat itu sudah berjanji untuk menyelesaikan tugasnya di Jakarta, namun ia memilih tunduk ke keputusan partai sehingga membuatnya di cap sebagai “BONEKA”. Walaupun akhirnya pilihan capres saya saat itu kalah, sebagai warga negara yang baik, saya tetap support kepada pasangan presiden dan wakil presiden terpilih, mendukung penuh program-program yang baik untuk masyarakat, dan menkritisi program-program yang saya anggap kurang atau salah.
Lalu bagaimana dengan sekarang ? pilihannya Cuma 2, Golput atau pilih 01. Kedua pasangan capres dan cawapres yang ada memang tidak ada yang sempurna. Kembali lagi, ini tentang memilih mana yang mending. Di kubu prabowo banyak orang baik, ada banyak Ulama, banyak juga tokoh-tokoh yang saya kagumi tapi lebih banyak lagi orang-orang jahat. Di kubu sebrang pun Demikian. Komunikasi politik kedua pasangan juga buruk menurut saya. Proses memilih cawapres juga bikin saya kecewa baik dari kubu 01 ataupun 02. Bukan karena tokohnya jelek atau tidak punya kapasitas dalam memimpin, lebih kepada proses kenapa memilih cawapres yang itu.. Contoh 01 tadinya cawapres adalah Mahfud MD, dan 02 pilihan cawapresnya lebih berat ke UAS (ustad Abdull Somad) tiba-tiba diperjalan di ujung batas waktu penentuan cawapres, semuanya berubah. So Sad. Salah satu pertimbangan kenapa saya mengeluakan kubu 02 dari pilihan adalah pernyataan-pernyataan prabowo yang belakangan ini Nampak seperti memihak pada koruptor. Namun Pada akhirnya saya golput, buka, bukan karena saya tidak mau terlibat, tapi pada saat hari H saya bangun kesiangan :D.
Jaman now, menjadi orang biasa saja terasa sulit, apalagi jadi presiden. Saya juga heran kenapa masih ada orang yang mau menjadi pejabat negara dan mengurusi banyak orang ?. pasti pusing. Karena akan selalu ada kelompok-kelompok yang merasa tidak adil, tidak terpuaskan, menuntut banyak hal yang Tentu saja kita tidak bisa membahagiakan semua orang. Ada 300 juta orang lebih yang harus diurus segala kebutuhannya, di dalamnya terdapat beragam pola pikir, beragam kebutuhan dan masih banyak keberagaman lainnya yang mana seorang harus mengakomodir semua pikiran dan keberagaman itu agar tercapai suatu keadilan. membayangkannya saja saya sudah pusing, saya yang mengurusi masalah baju reuni saja di angkatan saya yang isinya Cuma seratusan lumayan kelabakan untuk mengakomodir selera warna, selera disain, selera sablon, duhh apalagi mengurusi yang sudah ratusan juta, dann…… TIDAK DIGAJI. ðŸ˜ðŸ˜
Selanjutnya, siapapun yang jadi presiden, kita harusnya mendukung namun tetap diawasi agar tidak semena-mena nantinya. Kalo gak salah jaman-jaman old dulu, setiap mau ada upacara resmi, selaluada do’a untuk semua pemimpin di negeri ini. Nah, kalo percaya sama kekuatan do’a, kenapa tidak kita do’a kan pemimpin kita agar seperti yang kita inginkan ? amanah, adil, dan jujur.
Terakhir untuk menutup dan mengademkan suasana, saya mau mengutip tulisan yang belakangan beredar di wasap grup agar supaya kita tidak terlalu barbar dalam pilpres-pilpres ini.
“Prabowo tahun 2009 adalah cawapres Megawati. Lalu ada Fadli zon, di pilkada DKI 2012 adalah jurkamnya Jokowi ahok. SBY mantan menteri Megawati maju nyapres bareng JK, didukung Surya Paloh nantang Megawati. Di Pilpres berikutnya JK nyapres bareng Wiranto melawan SBY boediyono didukung Aburizal Bakrie yang sekarang lebih akrab dengan prabowo.
Ratna sarumpaet jaman orba dalah musuh Suharto, sekarang gandeng dengan prabowo yg disokong penuh keluarga cendana. Anies Baswedan di 2013 adalah peserta kandidat capres di konvensi partai democrat. Di pilpres2014 jadi timses Jokowi-JK dan sempat masuk dalam cabinet sebagai menteri pendidikan. Anies juga Pengkritik keras FPI yang dianggapnya kelompok radikal melalui gerakan merajut kebangsaan, lalu sekarang mendekat ke Prabowo, PKS, dan FPI
Amien Eais menentang megawati jadi presiden, lalu bikin maneuver poros tengah naikan GUS Dur jadi presiden. Di tengah jalan Gus Dur digulingkan dan menaikan Megawati jadi presiden.
Periode berikutnya 2004 amien rais nyapres melawan SBY dan prabowo, sekarang beliau bergandeng mesra dengan Prabowo yang pada jaman reformasi menjadikan Amien Rais sebagai target yang harus di “aman”-kan oleh prabowo, Ali Muchtar Ngabalin, pilpres 2014 adalah “Die Hard”-nya prabowo yang paling sengit menyerang Jokowi. Hari ini, bergelayut manja dipelukan Jokowi. PKS, gila-gilan menyerang prabowo di pilpres 2009 dan pilkada 2012. Sekarang asoy geboy bersama gerindra. PDIP & gerindra pernah mesra sebagai oposisi terhadap rezim SBY yang disokong golkar, PKS, dan PAN. Sekarang ?? tau sendirilah…
Ahmad dhani dulu musuh bubuyutan FPI sampe bikin lagu lascar cinta untuk mengejek FPI,sekrang ?
Dan masihbanyak lagi..
Pesan moralnya:
Dalam politik tak ada kawan dan lawan abadi. Yang abadi adalah kepentingan.
Everything is just a game. Karena itu enjoy aja. Tak perlu memusuhi kawan dan kerabatmu yang berbeda pilihan capresnya. Para elit politik itu bisa gonta ganti pasangan politik seenak udelnya sendiri, mereka yang tadinya musuh bisa jadi kawan atau sebaliknya, sementara kalian sudah terlanjur memutuskan persahabatan bahkan persaudaraan demi junjungan politisi kalian yang besok sehabis pilpres sudah kongkow-kongkow bareng dibalik panggung. Mereka mendapat kekuasaan, kalian kehilangan persahabatan. Ingatlah, kalo hidupmu susah, yang menolongmu itu bukan para elit politik diatas sana, tapi kawanmu, tetanggamu, saudaramu.
Sekian dan terima kasih
Turuga, 2019


Komentar
Posting Komentar