Perempuan dan tantangan
Jadi, hari ini saya menonton sebuah film yang berasal dari Korea yang berjudul "kim jiyoung:born 1982". Bercerita tentang seorang perempuan yang menjalani peran yang cukup banyak, menjadi anak dari orang tuanya, menjadi menantu, menjadi seorang istri, menjadi ibu, menjadi kakak/adik perempuan dan mengorbankan banyak hal dari dirinya demi lingkungannya. Film ini juga bercerita tentang ancaman pelecehan seksual terhadap perempuan, serta keputusan-keputusan besar setelah dewasa, setelah menikah, apakah memilih bekerja atau fulltime menjadi ibu rumah tangga, juga tentang bayangan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan. Yang akhirnya membuat karakter utama dalam film ini menjadi stress dan depresi. Ada salah satu pesan yang amat penting, bahwa kesehatan mental itu memang penting, dan pergi ke dokter jiwa tidak berarti gila.
Saya merasa bahwa menjadi perempuan dimasa sekarang jauh lebih sulit. Tantangan dan tekanan yang diterima oleh perempuan ditengah masyarakat patriarki jauh lebih kompleks dibandingkan yang di hadapi laki-laki. Dimana perempuan dianggap derajatnya lebih rendah dari laki-laki, tidak punya power, dirumah saja, tidak usah berpendidikan tinggi, dan lain sebagainya. Sedih juga sih liatnya.
Menjadi perempuan sunggulah sulit. Sebagai contoh sedari kecil sudah tuntut untuk bisa masak agar kelak bisa membahagiakan suami, setelah remaja-lulus SMA, ada yang sudah dinikahkan agar bisa menghemat biaya karena biaya hidup sudah ditangguhkan kepada suami, beberapa perempuan lainnya menunggu lulus S-1 dulu, umur memasuki 25 segera pertanyaan nikah nikah dan nikah akan datang membanjiri baik di real life maupun social media, seakan-akan seluruh permasalahan hidup akan selesai dengan menikah, belum lagi kalau sudah lulus S-1, belum nikah dan hanya nganggur diam-diam bae dirumah, Siap-siap saja digunjing satu se-kecamatan. Kadang juga sudah kerja masih juga salah, "mending nikah saja mbak biar ada yg menafkahi. Yaaahh busa helm kadang mulutnya susah dikontrol.
Perempuan bekerja bukan cuma tentang memenuhi kebutuhan keluarga, Tapi sebagai bagian dari peran sebagai mahluk sosial, juga pengamalan ilmu.
Bahkan perempuan yang sudah menikah sekalipun tidak lepas dari tuntutan. Perempuan yang sudah menikah masih dituntut lagi untuk segera memiliki keturunan, jika tidak, tatapan tatapan miring akan mengiringi setiap langkah kemana ia pergi. Tuduhan-tuduhan yg menyudutkan. Bahwa jangan-jangan ia mandul atau tidak bisa memberikan keturunan Yang membuat laki-laki jadi punya alasan untuk menceraikannya atau melakukan poligami dan masyarakat patriarki akan mewajarkan hal tersebut. Sungguh kejam masyarakat patriarki. Belum sampai disitu, sudah hamil dan mau melahirkan saja masih dihadapkan dengan pilihan mau Caesar atau normal, jika yang dipilih adalah Caesar, perempuan tersebut akan dianggap perempuan yang penuh dosa seakan bersekutu dengan jin yang membuat ia merasa tidak menjadi perempuan seutuhnya. Masih ada lagi, urusan mengendalikan kehamilan, mengurus anak, perkerjaan domestik rumah tangga seakan menjadi tugas dan tanggungjawab si perempuan sedangkan laki-laki hanya mencari nafkah. Tentu tidak kisanak.
Menurut saya, sebuah hubungan dalam lembaga pernikahan harusnya ikatannya partnership, teman jiwa atau soulmate, Merekatkan kata saling antara laki-laki dan perempuan agar menghasilkan harmoni.
Laki-laki yang mengkerdilkan perempuan dengan kampanye-kampanye bahwa perempuan dirumah saja, perempuan tidak usah sekolah tinggi-tinggi nanti toh juga berakhir didapur, jadi perempuan jangan terlalu pintar nanti laki-laki takut, adalah laki-laki pengecut. Biasanya laki-laki yang mengkampanyekan hal-hal diatas menginginkan istrinya kalo periksa kedokter atau bidan menginginkan diperiksa oleh tenaga medis perempuan. Lahh terus, kalo perempuan dirumah saja, tidak sekolah, tidak pintar, terus siapa yang periksa ngana pe istri wahai lutut kobra??
Tanpa merendahkan pilhan menjadi full time ibu rumah tangga atau profesi lainnya seharusnya perempuan bisa menjadi hebat dalam peran apapun dengan pilihan dan kesadaran sendiri. Mau jadi fulltime ibu rumah tangga, jadi bidan, guru, pebisnis, ataupun itu jadilah hebat. Perempuan punya power dan kesadaran memilih mau jadi apa. Termasuk memilih pasangan, memilih siapa yang menjadi ayah dari anak-anaknya kelak.
Nemu di internet
Kalo kata penulis perempuan favorit saya :
Perempuan yang mulia tidak cukup dengan menantikan pria sholeh, perempuan yang mulia mampu memuliakan dirinya dengan memilih laki-laki berpengetahuan :)
Realita perempuan sangat rentan menjadi korban kekerasan seksual, KDRT, ekploitasi, dan perdagangan manusia membuat saya sadar bahwa sebenarnya patriarki ini adalah musuh bersama. Saya tidak mau hal-hal tersebut terjadi dilingkungan saya, ibu, kakak, adik, saudara, teman perempuan disekitar saya. Kita harus sama-sama mendidik semua pihak baik laki-laki maupun perempuan untuk aware akan hal ini. Dalam agama yang saya anut, memuliakan perempuan adalah sebuah kewajiban bahkan disebut 3 kali sebelum memuliakan laki-laki. Juga kemuliaan surga berada ditelapak kaki seorang perempuan. Terakhir, mengutip kata-kata dari bunga hatta :
Mendidik seorang laki-laki mungkin hanya mendidik seorang manusia,
Tapi mendidik perempuan sama dengan mendidik satu generasi
Sekian
Turuga



Komentar
Posting Komentar