Delapan


Seorang murid yang sudah hampir delapan tahun berguru di sebuah padepokan, menghadap gurunya untuk melakukan ujian akhir. Si murid ini termasuk orang yang cerdas. Semua kitab yang diajarkan gurunya, juga lelaku, dan ragam keprihatinan hidup, ditempuhnya dengan mulus. Wajar jika dia tampak sangat percaya diri mengahadapi ujian akhir.

Sang guru menghadap salah satu murid kinasihnya dengan welas asih. “Sudah siap, Nak?”
“Sudah, Guru” Si Murid menjawab dengan samapta.

Suasana hening. Sang Guru memejamkan sepasang matanya yang dinaungi alis berwarna putih. Lalu suaranya pelan, bertanya, “Didalam sujud, bagian apasaja yang diletakan di lantai?”

Si Murid terdiam. Sepintas dia merasa kecewa. Kenapa pertanyaan ujian akhir ini begitu sederhana dan ringan? Padahal dia sudah mempersiapkan membaca ulang kitab-kitab dengan wewarah dari padepokan itu.

“Ada tujuh bagian, Guru” jawab si Murid dengan nada lemah. Seperti kecewa.

“Apa saja, Nak?”

“Dahi, kedua telapak tangan, kedua lutut, dan kedua pucuk telapak kaki dalam kondisi mancat.”

Suasan kembali hening.

“Yakin, Nak ?”

“Yakin, Guru”

“Coba dipikirk dan direnungkan lagi, Nak.”

“Sudah, Guru”

“Ada berapa bagian ?”

“Tujuh”

“Keliru, Nak”

Si Murid langsung terdiam. Dia tidak menyangka jawaban atas pertanyaan sederhana itu keliru. Dia tampak berpikir keras.

“Ada tujuh, Guru” Suara si Murid meggema. Dia yakin betul dengan jawabannya.

“Keliru, Nak. Ada delapan”.

Si murid kembali berpikir keras. Tapi tetap yakin jawaban atas pertanyaan itu adalah tujuh hingga ia menyerah. “Bagian yang satu lagi, yang menyentuh lantai saat kita sujud apa itu Guru?”

“Hatimu, Nak. Hatimu….”

Seketika itu juga si murid menundukan kepala. Menangis tersedu.



Puthea

Komentar

Postingan Populer