Wewenang surga


Sejatinya kita hidup di dunia ini adalah menjalani sebuah ujian. Masing-masing dari kita punya kertas ujian yang berbeda dengan jumlah dan jenis soal yang berbeda sesuai dengan kemampuan masing-masing. Kita, di ruangan yang sama, di Universitas kehidupan, berusaha sebaik-baiknya menjawab semua pertanyaan yang diberikan, berharap dapat hasil yang baik dan dinyatakan lulus.


Beberapa orang diberikan kesempatan waktu lebih banyak, beberapa orang lainnya menyelesaikan ujiannya dengan waktu singkat. Salah dan benar adalah sesuatu yang objektif dan juga sekaligus subjektif tergantung intensinya. Dengan soal yang sama beserta pilihan jawaban yang sama pula, sebuah soal memiliki nilai kebenaran yang berbeda tergantung niat. Yang menilai ujian ini adalah sang “rektor” langsung, untuk bisa lulus dalam ujian, kita diberikan sebuah pedoman berupa kitab-kitab dan beberapa guru yang mengajarkan kita tentang bagaimana melewati ujian.


Kita berada di kelas terakhir sebelum akhirnya universitas kehidupan ini akan ditutup. Kita memiliki seorang guru yang sangat spesial, yang menjadi contoh dan suri tauladan untuk menjawab semua pertanyaan dalam ujian. Sang guru tidak punya wewenang untuk menentukan siapa yang akan lulus ujian atau tidak. Hanya sangat “Rektor”lah yang memegang kewenangan itu. Namun, belakangan ini banyak murid yang sudah merasa jawabannya benar dan yakin lulus ujian lalu menghakimi murid-murid lainnya hanya karena punya seragam yang berbeda, naik kendaraan yang berbeda, atau cara menjawab yang berbeda dengan mereka, mungkin mereka menjawab menggunakan pulpen namun yang mereka hakimi hanya menggunakan pensil.



Iya, begitulah manusia sekarang. Beberapa kelompok seperti punya sebuah pedang kebenarannya untuk menentukan siapa yang akan masuk surga. Kewenangan surga adalah hak prerogatif Tuhan sebagai pemilik alam semesta. Siapa kita? Apakah kita punya hak untuk menentukan seseorang masuk surga berdasarkan anggapan kita bahwa ia berlumuran dosa? Saya rasa tidak.

Saya sangat berusaha untuk tidak merasa lebih baik dari seseorang, untuk tidak menghakimi seseorang berdasarkan simbol-simbol, atribut-atribut yang melekat pada seseorang. Kita tidak pernah tau perbuatan baik mana yang akan menutupi semua dosa-dosa seseorang yang melacurkan dirinya untuk di dunia. Kita tidak pernah tau perjuangan seperti apa yang ia lakukan selama ini. Mungkin saja selama ini kita hanya melihat dosa-dosanya, kita tidak pernah  melihat perbuatan kecil yang tulus dan ikhlas yang bisa membawanya ke surga-Nya. Sedangkan kita yang merasa lebih baik dari dia hanya karena tiap hari melaksanakan perintahNya namun niatnya untuk diliat manusia lain. Siapa yang tau dalamnya hati?


Kita dalam ujian yang sama, dalam perjuangan yang berbeda, medan perang yang berbeda, berusaha dan berikhitiar masing-masing. Kita memiliki kertas ujian yang berbeda. Ada yang merasa Lempeng-lempeng saja, lurus-lurus saja, ada yang merasa terseok-seok dengan ujian yang diberikan karena Kita memang punya ujian yang berbeda. Ada yang diuji dengan kebahagiaan, ada yang diuji dengan kesedihan, ada yang diuji dengan kemiskinan, dengan kekayaan, dengan suami/istrinya, dengan punya banyak anak/tidak punya anak. Setiap dari kita punya perjuangannya masing-masing. Siapakah kita yang merasa sudah lebih baik dari lainnya?

Siapakah saya ?
yang merasa lebih baik karena sholat di mesjid ketimbang yang sholat di rumah?

Siapakah saya?
Yang merasa lebih baik karena sholat jumat ketimbang mereka yang minum alkohol dipinggir jalan?

Siapakah kita?
Yang merasa lebih baik karena memakai jilbab daripada mereka yang tidak memakainya?

Siapakah kita?
Yang merasa lebih baik daripada mereka yang memiliki agama berbeda dengan kita?

Kita tidak pernah tahu sampai akhirnya hari dimana nilai hasil ujian kita  keluar. Kita sebagai manusia hanya bisa berusaha, berikhtiar, berdo’a, memohon ampun, mengharap berkah atas segala perbuatan kita.

Setiap dari kita punya dosa-dosanya masing-masing. Serta aib yang disembunyikan Tuhan. Saya sangat percaya bahwa Tuhan itu maha adil, maha pengasih dan maha penyayang. Dunia tidak akan sanggup menampung nikmat Tuhan, juga tak akan kuasa menahan azab-Nya.

Semoga apa yang kita anggap benar juga benar dihadapan Tuhan.


Terkahir, dengan segenap kerendahan hati,
Ya Allah ya Tuhanku, saya memohon ampun.


Turuga

Komentar

Postingan Populer