Refleksi

2 juni, 26 tahun yang lalu seorang bayi yang imut nan lucu lahir dengan menangis namun disambut dengan senyuman bahagia orang-orang sekitar. Ini cerita tentang  sebuah perjalanan melewati seperempat abad ditengah badai quater life crisis. 

Hidup adalah sebuah petualangan. Melewati banyak rintangan, badai, monster yang macam-macam bentuknya agar kita tumbuh menjadi kuat setiap fase yang dilewati.

Petualangan yang penuh emosi. Marah, senang, sedih, kecewa, semua adonan emosi yang cukup untuk membuat perasaan bahagia. Menurut saya, kita manusia tidak akan pernah merasa bahagia jika salah satu emosi kurang atau bahkan tidak pernah dirasakan. Kita hanya akan merasa bahagia jika merasakan semua emosi secara bergantian, bergelombang, naik turun, hingga membuat perasaan bahagia akan membuncah keluar. Kita tidak akan pernah merasa bahagia jika hanya merasakan senang saja, atau sedih saja, tidak akan pernah. Justru karena perasaan-perasaan itu datang silih berganti membuat kita tau apa artinya bahagia.

Hidup punya cara sendiri membuat kita terkaget-kaget dengan rahasianya. Kita bisa saja menciptakan rasa senang dengan bertamasya, ngobrol dengan teman, makan makanan kesukaan, namun beberapa saat kemudian kita bisa sedih karena terluka, jatuh, kehilangan sesuatu/seseorang, akan hal-hal lain yang membuat kita sedih. Atau malah sebaliknya, Kadang-kadang saat sedih, ada-ada saja hal bikin kembali senang. Semua perasaan itu memberi arti sebuah bahagia.


Bayi lucu itu telah melewati fase kanak-kanak, remaja. Dimana permasalahan hidup hanya berisi tugas rumah, pekerjaan sekolah, dan permasalahan remaja. Banyak sudah perasaan dan emosi yang dilalui.
Kini ia bersiap melalui fase baru, sebuah petualangan baru. Dewasa muda. Berisi tanggungjawab yang lebih besar, persoalan pekerjaan, nafkah, nikah, rumah tangga, anak, dll.

Sebuah fase yang akan menawarkan lebih banyak tantangan, lebih banyak perasaan, lebih banyak 'reward' dan hal-hal lain diantar diperjuangkan.

Bagi saya, perjalanan hidup dengan  segala keajaiban yang terjadi saat adalah sebuah anugrah. Dan saya diberikan sebuah hadiah yang tak punya nilai untuk merasakan semua perasaan dan pengalaman dalam pertualangan panjang ini, yaitu WAKTU.



Turuga

Komentar

Postingan Populer