Dear Indonesiaku

Dear Indonesiaku,



Tepat 8 tahun yang lalu, dihari ini, dimalam yang sama seperti sekarang ini, saya memegang bendera merah putih untuk pertama kalinya setelah dikunci dalam sebuah box selama setahun penuh untuk dikibarkan esok harinya. Malam ini adalah malam yang sangat sakral bagi seluruh paskibra seluruh Indonesia, terlebih lagi untuk para pengibar. Hanya kami berenam (pengibar pagi dan sore) yang diberikan izin untuk memegang bendera tersebut. Sepanjang malam tugas kami adalah melipat dan membentangkan sampai masuk jam tidur istrahat malam. Saya masih ingat bagaimana suasana saat itu, hening, yang ada hanyalah suara bisik-bisik pelatih memberikan instruksi dan nasihat untuk esok. 

Saya juga masih bisa merasakan bagaimana suasana dan juga atmosfir saat menjalankan tugas itu. Membuat saya selalu merinding se badan-badan ketika menginganya. Bagaimana Rasanya berada dibawah tiang bendera, berdiri didepan podium tamu undangan, diliat keluarga yg duduk disana, ditonton teman-teman yg berbaris di lapangan, semuanya masih terasa. Saya juga masih ingat teriakan "HALUANN KIRI!!" dari teman saya komandan pleton pasukan delapan tim nusa membangunkan saya dari ketidaksadaran yang hampir membuat saya pingsan saat itu karena mengalami kecapean. kesehatan saya drop 3 hari menjelang pengibaran, didoping dengan 2 suntikan setiap sore setiap hari karena mengidap hepatitis B. Dibawah tiang itu hawa nafas menjadi semakin panas, merinding se badan-badan, mata juga ikut panas, cuaca juga tidak mendukung karena angin bertiup kencang dari arah laut membuat tugas mengibarkan bendera pusaka saat itu menjadi lebih berat. Sungguh sebuah pengalaman nasionalisme yg berharga. Sebuah pengalaman tentang mengenalmu lebih jauh Indonesia, tentang perjuangan, tentang kemerdekaan yang dibayar dengan darah, tentang pengorbanan orang-orang terdahulu. Apa yang saya lakukan saat itu masih tidak ada apa-apanya. Perjuangan dan pengorbanan masih tetap kuupayakan untukmu Indonesia dengan caraku sendiri.

"Kekuatan suatu bangsa ditentukan oleh pengorbanan pemuda bangsa kepada tanah airnya. Tapi bagaimana bisa berkorban kalau tidak cinta? Dan bagaimana bisa cinta kalo tidak kenal? "


Dear Indonesiaku

Belakangan kamu sedang mengalami  salah satu fase krisis dalam sebuah perjalananmu yang panjang. Beberapa orang menginginkanmu hancur dan menjadikanmu sesuatu yang baru nantinya. Tolong tetaplah kuat dan jangan pernah goyah meski bombardir perselisihan dan segala hal buruk terus menggerogotimu. Jadikan ini sebagai titik balik, sumber kekuatanmu untuk berjaya esok hari. Tetaplah menjadi rumah untuk banyak suku dan agama yang berbhineka tunggal ika. 


Dear Indonesiaku

Negeriku yang kaya, entah harus menggunakan kata-kata seperti apa untuk menggambarkan kekayaanmu. Sumber daya alam melimpah, bahkan pertambangan terbesar didunia ada disini, flora fauna endemik yang tak bisa di temukan ditempat lain, ratusan suku bangsa, ribuan bahasa, dan puluhan ribu pulau-pulau indah terhampar. Namun mirisnya, kau juga mendapatkan predikat negara miskin dikarenakan seperlima dari total pendudukmu adalah orang-orang miskin. Sebuah ironi untuk negara yang juga pendapatan per kapita nya menjadi salah satu yang tertinggi diantara negara dunia. Mendapat label negara kaya sekaligus miskin disaat yg sama. Sungguh ironi. 


Dear Indonesiaku

Negeri yang lucu, bagaimana tidak, seorang yang meresmikan Tugu anti korupsi di tangkap akibat korupsi?. Bagaimana tidak lucu seorang Menteri Agama korupsi dana pengadaan kitab suci  ?


Dear Indonesiku,

Negeri yang strategis, banyak yang menyangka peristiwa bencana alam yg belakangan ini menimpa mu merupakan azab Tuhan. Nggak sih. Bagi saya Tuhan tidak sejahat itu. Masih ada banyak tempat yang lebih layak untuk urusan itu. Justru Tuhan menyayangimu Indonesiaku. Meletakkanmu diantara dua samudera besar dunia, diantara gunung-gunung indah dan cincin apinya yang membuatmu akan terus "bergerak" Dan "bergetar". Juga Tuhan peduli denganmu. Tuhan seperti memberikan "Sentilan" Layaknya teguran ke anak kecil jikalau mulai nakal agar terus merefleksikan diri. 


Dear Indonesiaku

Negeri yang unik, mencintaimu itu adalah sebuah keunikan tersendiri. Berkali-kali dikecewakan tetap saja cinta. Seperti saat menonton timnas sepakbola, walau kadang udah tau bakal kalah dan dikecewakan tetap aja nonton. Berkali-kali di"tebas" Korporasi besar. Berkali-kali dikecewakan oknum aparat nakal, pejabat busuk, tetap saja cinta. Hahaha Perbucinanku untukmu Indonesiaku. 


Dear Indonesiaku, 


Selamat merayakan hari ulang tahun yang ke-74. Bertambah satu lagi usiamu. Engkau kini kian tua, namun semoga tak merenta. Indonesiaku yang sedang berbahagia, jayalah selalu. Tetaplah satu dalam segala keragaman adat, budaya, suku, dan agama yang kaumiliki. Teruslah maju, agar engkau tak ketinggalalan dalam peradaban yang semakin kompleks. 



"Semakin tinggi kamu berdiri, semakin jelas kamu melihat, semakin indah kamu memandang, namun semakin sakit pula kamu terjatuh"


DIRGAHAYU INDONESIAKU



Turuga
Ampana, 16 Agustus 2019

Komentar

Postingan Populer