Kompromi



Hubungan apapun, selama kita masih berinteraksi dengan sesama manusia, kita butuh yang namanya berkompromi. Memaklumi hal-hal yang tidak berkenan dengan nilai-nilai yang pegang agar tercipta suasana yang kondusif disekitar kita. Karena kita tidak bisa mengontrol orang lain atau keadaan untuk selalu sesuai dengan yang kita inginkan, yang kita perlu lakukan hanyalah berkompromi. Namun, berdasarkan nilai-nilai itu juga kita tidak bsa berkompromi dengan sesuatu yang sudah terlalu jauh dengan nilai yang kita pegang.

Menurut saya, komproni ini seperti sebuah karet elastis yang bisa meregang sejauh berdasar nilai yang kita pegang. Manakala suatu hal tidak bisa lagi kita kompromikan, berarti disitulah batas terjauh “karet” itu meregang. “Karet” ini bisa diatur dengan cara merubah nilai yang kita pegang atau memberikan sedikit “minyak” cinta. Nah, dalam konteks hubungan dua sejoli yang di mabuk asmara. Karet yang namanya kompromi ini harus sudah diregangkan pada saat masa-masa PDKT, bisa melalui pacaran atau ta’aruf. Terserahlah mogimana caranya. Yang jelas kita harus sudah mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan nilai-nilai hidupnya, prinsipnya, sifat jelek, hobi gila, kelakuan-kelakuan aneh. Iya, emang kompromi ini berkaitan dengan sesuatu yang jelek yang nantinya apakah kita bisa terima atau tidak? Apakah kita bisa berkompromi dengan semua itu atau tidak?


Mengetahui semua itu diawal sungguh sangat berguna untuk kita memutuskan apakah kita akan lanjut bersama dengan orang itu atau tidak, karena jika sudah sudah terikat dengan yang namanya pernikahan, berkompromi adalah hal hal yang sangat sulit dan melelahkan jika hal-hal tersebut sangat jauh dengan yang kita harapkan. Mending tau semuanya diawal lalu memutuskan untuk bubar daripada akhirnya terjebak selamanya di hubungan yang seperti itu.
Makanya sangat penting untuk tau seperti apa calon pasangan kita pada saat masa-masa pendekatan itu. Tanyakan lah segala hal yang bahkan mungkin agak sedikit tabu untuk ditanyakan, seperti apakah mendengkur saat dia tidur? Suka ngiler mungkin ? atau kalo lagi berak sukanya posisi kayang ? (yekan siapa tau). Tanyakan juga tentang prinsip yang dia anut, tentang nilai-nilai yang dia pegang, misalkan bagaimana pendapatnya tentang istri yang berkerja, bagaimana pendepatnya tentang selingkuh, bagaimana dia mengontrol emosi. Tanyakan juga mengenai hobi, warna favoritnya.


Jangan nanti sudah menikah, lalu semua keburukan-keburukan yang dia punya terbongkar lalu kita tidak bisa memakluminya. Setelah menikah baru katahuan ternyata :

keteknya bau kabel terbakar,

punya hobi buang air besar di jendela,

kalo tidur getaran dengkurannya bisa sampe 15 skala ritcher,

bau nafas pagi hari serasa hawa-hawa naga puasa 5 abad semerbak zat kimia beracun,

ngupil pake jempol kaki, suka kentut sembarangan

pemalas, jorok, ceroboh, urakan,

sukanya warna biru tosca, sedangkan kau lebih suka abu-abu burik

tidak punya prinsip, memiliki nilai-nilai amoral, toxic abusive, suka selingkuh, suka kasar, main tangan, dan lain sebagainya.


Bagaimana jika itu semua baru diketahui setelah kau menikah dengan dia ? mungkin ada orang yang bisa berkompromi dengan beberapa hal diatas atau mungkin bisa memaklumi dengan semuanya karena ia cinta. Mungkin. Mungkin juga ada yg bhakan tidak sama sekali, mungkin. Setiap orang tingkat elastisitas “karet” dari kompromi ini berbeda-beda. Itulah mengapa saya katakan mending tau semuanya di awal daripada terperangkap selamanya dihubungan seperti itu.

“mending sedih sementara setelah putus daripada sedih selamanya karena terjebak dalam pernikahan yang tidak membahagiakan. Putus, sedih, ketemu orang baru, jatuh cinta, jadian. Kalo sudah menikah, jatuh cinta tidak akan semudah itu lagi”- adel


Jadi, maukah kau bercerita tentang kompromi mu  ?

Komentar

Postingan Populer