Untuk diriku diumur 30 tahun.




Dari kamu, diumur 25 tahun 





Apa kabar, diriku?

Bagaimana harimu? 

Semoga kau masih sehat-sehat saja ya. Hari ini aku menulis sepucuk surat untukmu. Lima tahun kedepan semoga kamu masih bisa menyisihkan sedikit waktu di antara kesibukanmu yang menumpuk untuk membaca suratku ini. Aku selalu berjuang dan berdoa demi kesuksesanmu. Bukan mendahului semesta, aku hanya menerka-nerka keadaanmu nanti. Sejujurnya aku juga sungguh penasaran bagaimana kehidupanmu saat itu, saat dimana kau duduk di tepi tempat tidur sembari menunggu si kecil pulas. Kemudian tersenyum simpul karena mencerna rangkaian kalimatku yang aneh ini. Mungkin saja.

Apa kabar mimpi-mimpimu? 

Apa kabar angan-anganmu? 

Apa kabar isi hatimu?

Apakah semua itu sudah kamu tinggalkan dan lupakan?

Ataukah masih sama?

Semoga masih ya, atau mungkin saat kamu membaca surat ini kamu sedang menjalani salah satu mimpimu?

Apakah saat ini kamu sedang duduk dibawah menara Eiffel sambil melihat langit malam kota Paris?

Atau mungkin sedang mendayung perahu di sungai di tengah-tengah kota venesia?

Atau mungkin sedang baca buku dalam perpustakaan universitas tertua diduna Al-ahzar Mesir?

Atau mungkin sedang menyusuri salah satu jalanan kota tua dunia: Alexandria kah? Praha? Konstantinopel? Jerusalem? Athena?

Atau mungkin kamu sedang duduk diteras masjid di Cordoba?

Atau berbaring dipantai disalah satu pulau dikepulauan karibia?

Atau sedang berada dipuncak gunung es dikutub utara untuk sebuah aurora?

Semoga iyaa…




Untuk diriku dimasa depan,

Saat kau menulis surat ini, kamu sedang berada pada salah satu fase dalam hidup yang mana hidupmu seakan dalam sebuah drama komedi tragedy. Semua masalah dalam hidup menumpuk menjadi satu dalam satu waktu. Semesta sedang ingin bercanda denganmu, seperti ingin tertawa dan menangis dalam waktu bersamaan. Setelah ku-searching ternyata kamu sedang mengalami Quarter Life Crisis. Sebuah fase dimana sesorang akan mengadapi Masalah keluarga, relasi, karir, keuangan, mersa hidup sedag stagnan. Berada pada persimpangan jalan antara pragmatis, idealis atau realistis ?




Diriku dimasa depan,

Aku benci dirimu saat ini, tubuhmu yang malas, pikiran yang terkungkung, dan matamu yang busuk ampun-ampunan. Melawan diri sendiri adalah perjuangan yang sangat teramat berat sejauh ini dalam perjalan menuju dirimu yang sekarang. Tapi jangan khawatir bro, aku selalu mengupayakan yang terbaik untuk dirimu saat ini.



1. Aku yakin tubuhmu pasti bertambah gemuk. Tapi apa kau juga masih malas berolahraga?

Diriku, apa kau sudah menjadi ayah? 

Saat itu kau sudah lumayan berumur ya. Saat kau menulis surat ini, perut buncitmu sudah seperti ibu hamil 5 bulan, kalo udah kenyang selesai makan bertambah jadi seperti hamil 6 bulan. Kadang bikin malu kalo lagi jalan, ingin kutampar rasanya. Kamu Jaga kesehatan ya. Meskipun super sibuk kuharap kau juga menyisihkan untuk sedikit olahraga, main futsal misalnya. Kau masih menjadikan futsal sebagai olahraga favoritmu, kan?




2. Kuharap kau sudah berjumpa dengan partner seumur hidupmu dan memiliki versi kecil dari dirimu.

Diriku, sudahkah kau memiliki mereka? 

Yang paling membuatku penasaran adalah bagaimana rupa istrimu ya? Apakah dia berkacamata?. Aku yakin dia pasti cantik untuk versimu. Wanitamu itu seseorang yang baru kau kenal atau justru cinta pertamamu? Saat ini memang aku masih belum bertemu dengan istrimu. Aku yakin dia wanita yang baik, yang mirip denganmu. Bukankah jodoh adalah cerminan diri? Aku janji akan memantaskan diri demi dirinya dan kebahagiaan kalian. Perlakukan dia sebaik mungkin, jangan biarkan dia menangis apapun alasannya, tetaplah buat dia jengkel dengan sikap “tengil”mu agar nantinya ketika kalian harus berjarak, hal itulah yang akan mengingatkannya padamu.

Oh ya, saat itu apa kau sudah memiliki pangeran dan puteri kecil? Pasti mereka lucu dan menggemaskan. Meski lelah mengurus mereka aku yakin kau pasti tak henti-hentinya mengucap syukur atas kehadiran mereka. Jangan lupa bacakan mereka cerita sebelum tidur, menuntun mereka berdoa, mendidik serta melimpahi mereka dengan kasih sayang.




3. Menjadi seorang ayah tidak mudah. Kuatkan ya ?



Diriku, masih semangat bekerja kan? 

Ketika sudah dewasa, kau dituntut untuk lebih bertanggung jawab untuk dirimu sendiri dan juga orang-orang disekitarmu. Diriku, kuingatkan kau. Kalau kemarin-kemarin kamu belajar tetang tanggung jawab untuk dirimu sendiri, maka Saat ini, kamu sedang belajar bertanggung jawab untuk orang lain. Your mother, please recall how the feel when your mother said some semacam kode for change her handphone but you just senyum meringis cause you didn’t have enough money. Your heart was broken immediately. Pelajaran penting saat ini adalah merelakan dan mengorbankan sesuatu untuk orang lain yang kau sayangi.

Diriku di masa depan, aku yakin kehidupanmu telah berubah. Sudah pasti kau akan tumbuh semakin dewasa. Masa lajang dan masa muda memang pantas dikenang dengan indah. Diriku yang sekarang sedang berusaha menikmatinya sepenuh hati agar kau tak akan menyesal di kemudian hari. Membekali diri dengan wawasan baru, berusaha meraih impian kita dan memantaskan diri demi sang pelengkap jiwa. Satu pesan untukmu. Apapun keadamu sekarang, Sekecil apapun kesuksesanmu, syukurilah. Karena kau telah melewati perjuangan besar dan perjalanan yang terjal. Walaupun badai kehidupan semakin kencang menerjang. Dongakkan kepalamu, tegakkan badanmu dan jangan pernah menyerah. Jadilah lelaki yang kuat, yang bisa jadi contoh dan panutan. Diriku!

Dari aku yang sekarang – Dirimu 5 tahun yang lalu.

Komentar

Postingan Populer